Beasiswa, IPK Dan Kebutaan Sosial

Beasiswa, IPK Dan Kebutaan Sosial

Oleh : MutheeBeasiswa, IPK Dan Kebutaan Sosial

“beasiswa/be·a·sis·wa/ /béasiswa/ n tunjangan yang diberikan kepada pelajar atau mahasiswa sebagai bantuan biaya belajar “

Definisi beasiswa menurut KBBI

Saya menangkap bahwa inti dari beasiswa merupakan bantuan untuk biaya belajar. Dalam artian ini, beasiswa adalah bantuan yang diberikan oleh pemilik modal atau pemerintah bagi mahasiswa yang tidak menyanggupi beban biaya kuliah. Dalam hal ini tentu saja bukan untuk mereka yang sanggup membiayai kuliahnya.

Seperti yang saya ketahui bahwa beasiswa bisa berasal dari PPA-BBM, Yayasan, atau perusahaan-perusahaan, Baik BUMN maupun non-BUMN.  Namun untuk mendapatkan beasiswa tidaklah mudah. Ada persyaratan yang mesti dipenuhi. Sepengetahuan saya syarat mendapatkan beasiswa ini adalah dengan standar IPK, minimal IPK 2,75-3,00. Bila mahasiwa dapat mencapai IPK sesuai standart tersebut maka seorang mahasisawa bisa mendapatkan beasiswa. Namun demikian beasiswa tidak bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat. Artinya,  Beasiswa dapat hangus jika IPK si beswan tidak lagi memenuhi standar.

Inilah titik pijak kritik saya atas segala ketentuan beasiswa. Nampaknya memang tidak ada yang cuma-cuma di bawah kontrol kapitalisme hari ini. Dengan standarisai IPK yang sedemikian hingga, saya menilai bahwasanya esensi pendidikan bukan lagi belajar untuk membangun wahana pengetahuan yang bebas dan merdeka. Melainkan mengejar angka-angka, mengikuti segala ketentuan linear semua mata perkualiahan, tunduk dan patuh dalam dikte-dikte segala tetek bengek perkuliahan yang menyebabkan gairah untuk mempertanyakan segala sesuatu menjadi hilang sama sekali.

Diakui atau tidak, IPK tinggi adalah kebanggaan tersendiri bagi kaum mahasiwa dewasa ini, sebuah capaian yang istimewa agar dapat mencapai mimpi-mimpi indah untuk meraih pekerjaan yang baik, kehidupan yang nyaman dan mapan di masa depan. Semua orang tentu mengimpikan hal yang serupa, namun dibawah kapitalisme semuanya berbeda. Dunia kerja tidak menyajikan semua impian indah ini. Terbebas dari tekanan produktivitas IPK tinggi, mahasiwa tetap harus berkompetisi, dan menyadari bahwa para sarjana dengan IPK yang tinggi rupanya tidak sedikit, kebanggan yang kita rasakan saat wisuda rupanya, juga dirasakan oleh ribuan mahasiswa lain dengan mimpi-mimpi yang sama, yaitu hidup mapan.

Bayangan akan masa depan yang indah ini tentu saja membuat sebagian besar mahasiwa akan menjadi pragmatis dan apatis dalam segala kemungkinan untuk melibatkan diri dalam aktivitas progressif-revolusioner untuk mengabdi dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat yang telah dilegitimasi dalam  tridharma perguruan tinggi. Mereka akan memilih segala cara agar cepat selesai kuliah dan mendapatkan IPK Tinggi. Karena menjadi kritis dan melek isu-isu sosial itu berarti merusak masa depan.

Mahasiswa dipaksa menjadi robot-robot yang terprogram untuk berdisiplin ilmu dan memproduksi setinggi-tinggi nya IPK. Mahasiswa seperti menjadi pekerja IPK yang tidak mempunyai jam kerja dan tidak digaji.  Mereka telah bermutasi menjadi mutant-mutant yang kehilangan cinta-kasih dan kepekaan sosial sebagai manusia-manusia dengan degala naturalitasnya. Mereka telah bertransformasi menjadi individu-individu yang teralienasi dari kemanusiaannya. Sistem pendidikan yang demikian ini yang menurut saya telah mengingkari janji suci Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat.

Mahasiswa disiapkan untuk menjadi baut-baut yang di modifikasi sedemikian rupa untuk menguatkan setiap sendi-sendi yang menompang dominasi kapitalisme. Mahasiswa diajarkan untuk berkompetisi dalam meraih IPK tinggi untuk memenuhi kebutuhan standarisasi calon pekerja yang samasekali tidak  menjamin kesejahteraan apapun.

Mereka yang telah terbebas dari penjara pendidikan, akan memasuki penjara berikutnya, yaitu penjara dunia kerja, namun tahap ini tidak dengan suka rela dapat dilewati, akan tetapi dalam sebuah kompetisi yang baru. Dulu IPK, selanjutnya adalah Pekerjaan.

Dari penjara ke penjara

“Penjara adalah tempat orang-orang dikurung dan dibatasi berbagai macam kebebasan. Penjara umumnya adalah institusi yang diatur pemerintah dan merupakan bagian dari sistem pengadilan kriminal suatu negara, atau sebagai fasilitas untuk menahan tahanan perang

– Penjara, sumber wikipedia

Tapi mohon maaf, mahasiswa bukanlah seorang Kriminal. Namun biarlah saya mengasumsikan-nya seperti demikian. Penjara kita bukan institusi yang dibuat oleh pemerintah untuk para Kriminal dan tahanan perang, tetapi melalui sistem pendidikan dan segala prasyarat beasiswa dan kelulusan. Kita adalah segerombolan tahanan-tahanan yang terkungkung kebebasan berpikirnya, yang terpenjara jiwa-raganya dari masyarakat. Dan penjara ini tidak selesai ketika tali topi toga bergeser.  Penjara dunia kerja didepan mata, eks-tahanan perguruan tinggi harus bersaing untuk dapat memasuki terali besi selanjutnya, dan tentu saja lebih menyakitkan. IPK yang tinggi tidak menjanjikan kita untuk menempati posisi yang nyaman dalam penjara dunia kerja. IPK tinggi yang dulunya di perperjuangkan melalui setumbukan buku-buku, waktu yang panjang dan lelah yang tak terhingga, bisa saja hanya berakhir di tempat sampah Personalia, atau jika masih bernilai, hanya sesuai dengan UMR atau bahkan dibawah-nya.

Sebagaian eks-mahasiwa mungkin mengerti bahwa semua ini adalah kapitalisme penyebab-nya. Bahwa ternyata kapitalisme telah menekuk lutut kita dan memaksa kita untuk tunduk sedari bangku kuliah melalui sistem pendidikan yang represif dari sisi ekonomi dan sosial. Kapitalisme memahami betul bahwa hanya kemerdekaan berpikir dan belajar adalah satu-satunya masalah yang berbahaya bagi keberlangsungan dominasinya, oleh karena-nya diperlukan satu sistem yang mampu, hingga tanpa disadari, membuat para mahasiswa, yang semestinya kritis, menjadi tersesat.

Ketersesatan tidak berhenti disana, ketika sebagian besar pejuang yang sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan IPK tinggi ini bekerja, dikala melihat gemuruh kaum buruh yang berjuang untuk kesejahteraan, mereka dengan ajaibnya menjadi kritis, mereka mulai mengkritisi apa latar-belakang pendidikan kaum buruh ini, berapa gajinya, apa yang mereka kendarai, apa yang mereka pakai, apa yang mereka makan, sampai dengan bagaimana cara mereka berak. Di waktu yang sama mereka akan kembali ke masa lampau dan mulai mengukur-ukur dan membanding-bandingkan jerih payah nya dalam mengejar IPK tinggi, biaya, waktu dan tenaga yang terbuang. Walhasil mereka akan merasa paling menyedihkan, sehingga harus dikasihani, dan tidak terima jikalau kaum buruh yang mayoritas berpendidikan lebih rendah dari mereka ingin hidup sejahtera. Mereka akan tetap angkuh dengan tidak menyadari bahwa kapitalisme-lah penyebab semua kemiskinan, kapitalisme lah yang berupaya agar gaji para sarjana tetap murah. Mereka tetap tidak mau jujur menerima dan terus menuduh kaum buruh-lah yang tidak tau diri.

Maka apakah salah jika saya sematkan kata sesat dibelakang gelar-nya, jika pola berpikir para sarjana ini demikian? Ah tidak, saya tetap sadar bahwasannya sistem kapitalisme pendidikan yang merangkai pola berpikir mereka. Kapitalisme dunia kerja yang membuat mereka menjadi penuh kebencian sedemikian kata dan tindak tanduk.  Produktivitas IPK dibangku kuliah-lah yang membuat mereka acuh atas segalanya dan membentuk mereka menjadi patriot kapitalisme yang paling loyal dan militant!

Akhir kata, saya ingin mengutip ocehan Proudhon yang dengan terang benderang menjabarkan seperti apa itu pemerintah. Dan dalam hal ini saya rasa sangat relevan untuk menjelaskan seperti apa itu kapitalisme pendidikan. Buka mata dan hatimu wahai sahabat, adakah yang di katakan Proudhon ini adalah bohong?

“Diperintah adalah diawasi, diperiksa, dimata-matai, diarahkan, diatur, ditata, dikekang, diindoktrinasi, diceramahi, dikendalikan, dinilai, diuji, disensor, disuruh; semuanya dilakukan oleh makhluk-makhluk yang tidak punya hak, yang tidak punya kebijaksanaan pun kebajikan … Diperintah berarti bahwa dalam setiap gerakan, operasi atau transaksi, seseorang dicatat, didaftar, dimasukkan dalam sensus, dikenai pajak, dicap, diberi harga, dinilai, dipaten, diberi lisensi, diberi kewenangan, dinasehati, diperingatkan, dihalang-halangi, direformasi, diatur, dikoreksi. Pemerintahan diadakan dengan tujuan memungut pajak, melatih, menebus, mengeksploitasi, memonopoli, memeras, menindas, membuat bingung, merampok; semuanya atas nama keperluan publik dan kebaikan umum. Sehingga ketika pertama kali ada tanda perlawanan atau kata keluhan, seseorang akan ditekan, didenda, dipandang rendah, disakiti, dikejar-kejar, dipaksa, disiksa, dicekik, dipenjarakan, ditembak, dijadikan sasaran senjata mesin, diadili, dijatuhi hukuman, dideportasi, dikorbankan, dijual, dikhianati, dan sebagai penutupnya, orang itu akan diejek, dihina, disiksa dan dipermalukan. Itulah pemerintahan, itulah keadilan dan moralitasnya!”

– Proudhon, General Idea of the Revolution in the Nineteenth Century (1851)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*